TIPOGRAFI DEKORATIF KAWUNG FLORAL REGULAR

Abstract:

Typeface as a print advertising communication element has an important role to convey the message.There are many variations in the use of type application in typography. One is a kind of decorativetypeface. The existence of decorative letters during the Dutch East Indies in terms of silografi iswidely used in newspapers. Currently the use of decorative letters is less productive because it is onlyused as a supplement and as an aesthetic element. The creation of works of decorative letters will adddigital reference letters in adopting elements of local culture in the motif. The chosen motif to thesource of creation decorative letters is like motif kawung of Surakarta and Yogyakarta batik stylesthat have a common history. The application of this new type of decorative fonts as supporting visualaesthetic in design wedding invitations, especially themed Javanese batik or marriage. The method ofcreation is through the stages of observation and exploration, experimentation, creation and applicationin the design of wedding invitation cards.

Keywords: Decorative letter, batik, wedding invitations

Silahkan link ke:http://jurnal.isi-ska.ac.id/index.php/acintya/article/view/217

Keris Symbols in The Emblem and Brand Logo

 

Abstract :

The Keris as a result of Indonesian culture that existed in the archipelago was born since this ancestor expe- rienced a cultural change from agrarian culture to metallurgical culture that synergize with human behavior. As a worthy artifact, keris has a personal philosophy value for the wearer, where the keris contains elements of prestige result of the wrought process is quite complicated. If modern civilization the keris disappears from the nation’s cultural behavior is due to the process of cultural hegemony outside and erodes the value of the local culture. This study uses a qualitative descrip- tive approach to analyze the function of keris icon in the symbol or brand in hermeunitic and interpret it in semiotic. So that the current keris interpreted as a symbolic visual element, then the form of a keris that curves and kris straight into the aes- thetic elements of the logo or symbol in it. From several symbols or logos showing positive values have a strong philoso- phy of spirit and unity in the symbols of provinces and districts in Indonesia. Similarly there is the national army corps like corps Marines, symbols in the world of sports such as martial arts and exist in the college logo. But there are other things as a symbol element that is worth the economic identity, as in the brand Batik Keris, and also on other brands in the realm of postmodernism contains elements of capital.

Keywords Keris, emblem, logo, brand, and corporate identity

Silahkan link ke: https://www.atlantis-press.com/proceedings/bcm-17/25892169

Transitions of Videography in Shadow Puppetry

Abstract:
Shadow puppetry (wayang kulit) is one of the Indonesian cultural treasures of which typical characteristics are different from other nations. As a performing art which is enjoyed as if a movie theater in western culture, it is actually a form of Indonesian theatre that has existed since the past hundred years, i.e. earlier than years of western movie development. The present research aims at finding out the transition forms of shadow puppetry which can serve as basis of typical Indonesian motion pictures. It indicates that shadow puppetry displays a series of scenes presenting a story and inter-scene transitions. These transitions function as constraints, connectors, and synchronizers between one scene and the others to form a story that can be enjoyed by spectators. Transitions in shadow puppetry are various in forms. A puppeteer (dalang) has different style from the others in performing the inter-scene transitions of the puppetry, even when presenting an opening of his performance. The inter-scene transitions include transition by overshadowing figures, by using gunungan dances, by inserting gunungan, by sneaking to gunungan,by using gada kick, and by using gunungan kerawangan.
Keywords: transitions, shadow puppetry, videography, and gunungan

Silahkan Link ke: http://iiste.org/Journals/index.php/ADS/article/view/33860

MAKNA TANGGUNG JAWAB SOSIAL DALAM STUDI KREATIF GENRE IKLAN DI TELEVISI

Abstrak

Perkembangan media televisi cukup pesat di Indonesia banyak bermunculan iklan-iklan televisi yang ikut meramaikan media ini. Iklan yang dulu hanya sebatas iklan komersial dan non komersial (ILM) sekarang ini mulai muncul jenis bentuk iklan korporat, tetapi mempunyai nuansa sosial, karena adanya dorongan CSR (Corporat Sosial Responsifbility) atau juga karena dorongan jiwa filantropi. Maka bentuk iklan ini menjadi jenis iklan baru sehingga dinamakan iklan filantropi. Semangat filantropi sebagai rasa tanggungjawab perusahaan terhadap masyarakat maka biasanya ditayangkan sesuai dengan momen yang tepat. Dengan momen yang tepat dimaksudkan agar iklan yang ditayangkan  dapat tepat sasaran.

Memahami makna iklan filantropi dapat diketahui dengan menangkap iklan audiovisual tersebut lewat take picture frame by frame dari moving image iklan. Pertama kali yang dilakukan adalah dengan membongkar (dekonstruksi) tanda-tandanya baik ikon, indeks dan simbol. Kemudian melakukan interpretasi makna secara denotatif dan konotatif makna mitos dari nilai-nilai kulturalnya secara naratif deskriptif induktif.

Dengan kacamata Semiotika posttrukturalis dapat dikaji iklan televisi dalam suatu momen tersebut kaitanya dengan bentuk pesan, isi pesan, momen atau konteks budaya, aspek artistik visual frame bay frame ataupun pergerakan dalam penciptaan iklan dari tanda dan penandanya. Sebuah tanda adalah sebuah permainan maka membebaskan penanda dari beban makna. Dengan kata lain bahwa makna itu hadir dikarenakan intertekstualitas tanda.  Dan sebuah teks dapat dimaknai secara bebas dan tanpa akhir.

Kata Kunci: Makna, Genre, Iklan Filantropi

*lihat di edisi cetak  jurnal Acintya (jurnal penelitian seni budaya) ISI Surakarta Volume 1 No. 2 Desember 2009, ISSN : 2085-2444

Animasi 3D  Iklan Layanan Masyarakat  Pencegahan Flu Burung

(Kajian Estetika Animasi dan Makna Iklan pada Desain Komunikasi Visual)

Abstrak:

Iklan kreatif dalam ILM (Iklan Layanan Masyarakat) pencegahan flu burung dengan model animasi kartun 3D sangat menarik dan komunikatif. Iklan Layanan Masyarakat ini telah tayang di media televisi beberapa tahun yang lalu tepatnya di tahun 2007-2008 oleh Komnas FBPI, PBB dan Masyarakat Jepang. Ungkapan visual dalam ILM menggunakan pendekatan kreatif model animasi kartun 3D, mempunyai daya tarik visual baik secara estetik ataupun semiotik. Keunggulan ini tidak dapat ditemui dalam ILM sejenis yang menampilkan secara visual talen dari model iklan yang sesungguhnya.  Karena keunikannya ini maka karakter dari model animasi sangat menarik dan mampu memberikan ketertarikan mata yang melihat secara visual.

Selama ini pendekatan animasi kartun 3D sering sebagai sarana penyampai pesan pada iklan produk, seperti halnya dalam pendekatan iklan pada produk makanan anak-anak dapat dijumpai di media televisi.

Pendekatan animasi kartun 3D adalah salah satu bentuk dari pendekatan kreatif dalam ILM di televisi yang proses pengerjaannya melalui model motion graphic dengan sofware tertentu, salah satunya dengan sofware Animasi 3D Max.  ILM menggunakan model pendekatan ini mempunyai suatu keunggulan tertentu sebagai salah satu strategi dalam penyadaran tentang pencegahan flu burung agar lebih efektif dan mengena di benak audien. Ungkapan makna visual dalam citra animasi kartun mempunyai bentuk nilai kekuatan tersendiri. Kekuatan ini yang menjadikan bentuk iklan sosial dalam format animasi kartun 3D menjadi sebuah pilihan pendekatan yang layak untuk dilakukan agar iklan dalam pesan sosial dapat cepat tercerna oleh otak motorik manusia dengan segera.

ILM dalam sosialisasi pencegahan flu burung yang dilakukan oleh Komnas FBPI, WHO dan Japan Fondation ini adalah sangat menarik untuk dikaji. Faktor daya tarik visual dari citra kartun 3D adalah hal utama yang akan diteliti dengan pendekatan estetika dan maknanya adalah hal yang utama. Sehingga dapat dirumuskan mengapa pendekatan animasi kartun 3D  dalam eksekusi sebuah iklan sosial (ILM) pencegahan flu burung menggunakan model ini.

 

Kata Kunci: animasi, estetik, makna


 

Search